Kamis, 14 Mei 2015

analisis puisi "aku" karya chairil anwar

Bagaimana perasaan kalian setelah membaca kembali sajak tersebut? Siapakah yang dimaksud dengan "aku" pada puisi itu? Apakah kalian merasa bahwa si "aku" adalah kalian sendiri? Mengapa si aku lirik berani menantang "peluru"? Mengapa pula si "aku" ingin "hidup seribu tahun lagi"? Jelaskan maksud dari puisi itu!

Awalnya saya masih agak bingung, tetapi setelah saya membaca kembali puisi itu, saya sudah mulai mengerti maksud dari puisi itu. Yang dimaksud oleh si "aku" dalam sajak tersebut adalah seorang pahlawan yang telah gugur. Saya tidak merasa bahwa tokoh "aku" dalam sajak tersebut adalah diri saya. Karena ia sudah pernah membantu/berkorban untuk negri ini, sehingga ia tidak takut akan peluru yang akan menembus kulitnya. Si "aku" ingin hidup seribu tahun lagi karena ia masih ingin membela bangsa dan negara kita. Maksud dari puisi itu adalah mengajak kita untuk lebih menghargai pahlawan yang telah membela bangsa kita.

puisi kesenjangan sosial



Kesenjangan
Karya: Risma Octa Sari
Aku melihat keadaan di sekelilingku
Kulihat banyak perselisihan terjadi
Antar suku, antar kampung
Antar budaya, bahkan antar agama

Di Negri kita
Telah lahir bibit-bibit premanisme
Yang akan meresahkan
Masyarakat di luaran sana

Unjuk rasa terjadi dimana-mana
Dihampir setiap pelosok negri
Seketika banyak mayat yang berjatuhan
Bagaikan bangkai yang tak berharga

Apakah kalian ingin melihat semua itu terus terjadi?
Sampai kapan itu semua terjadi?
Merusak negri kita yang indah ini


teks prosedur kompleks cara membuat sim



Cara Mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM)
                Pernahkah anda mengurus surat izin mengemudi (SIM)? Mengurus SIM tentu memerlukan waktu dan biaya. Tulisan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman dalam mengurus SIM dengan benar. Tulisan ini akan sangat membantu penduduk yang belum mempunyai SIM agar dapat menghemat biaya dan waktu.
Syarat-syarat pembuatan SIM:
Ø  Kita sudah harus berusia 17 tahun keatas dan sudah memiliki KTP sendiri.
Ø  Surat keterangan sehat jasmani yang dikeluarkan oleh dokter. Jika tidak sempat, anda juga bisa mengikuti test kesehatan di polsek setempat.
Ø  Membayar biaya untuk pembuatan SIM itu sendiri dan untuk biaya asuransi.
Ø  Foto copy KTP 4 lembar
Tujuan pembuatan SIM:
Ø  Agar dijalan raya kita mengetahui dan dapat mengikuti aturan-aturan yang berlaku demi kesehatan bersama.
Proses pembuatan SIM:
Pertama, datanglah ke polsek setempat. Lalu, isilah formulir dengan baik dan benar. Kedua, kita membayar sejumlah biaya untuk pembuatan SIM. Ketiga, jika anda belum melakukan test kesehatan, anda dapat melakukan itu di polsek tersebut. Antara lain test mata dan anda akan diukur tinggi badannya. Keempat, setelah anda melakukan test kesehatan, anda akan melakukan test secara tertulis mengenai rambu-rambu lalu lintas. Kelima, kita akan di test untuk mengendarai kendaraan bermotor/bermobil. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah kita sudah dapat berkendara dengan benar atau belum. Keenam, anda akan difoto untuk ditempel di SIM anda. Setelah difoto, tunggulah beberapa saat dan SIM anda siap untuk diambil.

cerpen



Ku Relakan Dia Demi Sahabatku
                Rani, gadis cantik berrambut pirang dengan bulu mata yang lentik, wajahnya memikat, senyumnya membuat orang nyaman didekatnya. Rani yang biasanya riang, senang bersenda gurau, pagi itu tampak murung. Rika teman dekatnya bertanya-tanya dalam hati, ada apa kiranya dengan Rani. Rika pun memberanikan diri untuk bertanya pada Rani.
                “Ran… Ran… hari ini kau tidak seperti biasanya.” Rani pun tetap diam seribu bahasa.
                Bel masuk pun berbunyi, tanda pelajaranakan segera dimulai. Tak lama setelah bel berbunyi, Bu Ida, seorang guru bahasa Indonesia memasuki kelas Rani. Bu Ida  mengajar seperti biasa, namun di tengah pelajaran, Bu Ida melihat Rani tidak seperti biasanya. Ya, Rani terlihat murung. Bi Ida pun menegur Rani.
                “Rani, kamu kenapa? Ibu perhaikan sejak tadi kamu terlihat murung.” Tanya Bu Ida.
                “Ti.. tidak kenapa-kenapa kok bu.” Jawab Rani dengan terbata-bata.
                Rani pun kembali memperhatikan pelajaran. Rika sebagai teman Rani pun merasa bingung akan kemurungan Rani. Bel istirahat pun berbunyi, beberapa anak pun pergi ke kantin sekolah untuk membeli makanan. Rani dan Rika tetap dikelas karena mereka membawa bekal dari rumah. Setelah selesai makan, Rani bercerita kepada Rika apa yang sedang Ia alami.
                “Rik, aku sangat bingung.” Ucap Rani
                “Mengapa begitu?” Tanya Rika bingung.
                “Kamu ingat kan dengan Dimas? Teman les ku itu loh. Yang minggu lalu aku ceritakan padamu saat dia dating kerumahku dan memberikan aku coklat.”  Jawab Rani.
                “Iya aku ingat. Memangnya dia kenapa?” Tanya Rika.
                “Tapi kamu jangan cerita kepada siapapun ya. Janji?”Tanya Rani.
                “Iya aku janji Rina.” Jawab Rika.
                “Tapi aku bingung harus memulai ceritanya dari mana.” Ucap Rani.
                “Sudahlah, ayo ceritakan saja Ran.” Ucap Rika sedikit memaksa.
                “Se.. sebenarnya.. mmm.. sebenarnya…” jawab Rani dengan gugup.
                “Sebenarnya apa? Yasudahlah kalau kamu tidak mau menceritakannya padaku.” Jawab Rika dengan sedikit kesal.
                “Sebenarnya aku suka sama Dimas.” Ucap Rani.
                “Hah? Kamu serius? Yaampun Ran hanya karna Dimas saja kamu sampai semurung ini hahaha.” Jawab Rika dengan sedikit tertawa.
                “Bukan itu masalahnya Rik.” Ucap Rani.
                “Lalu apa masalahnya?” Tanya Rika.
                “Aku suka pada Dimas, Dimas pun juga suka padaku. Tapi, Putri, salah satu temanku di tempat les juga suka pada Dimas. Aku sangat tidak enak pada Putri.” Rani mulai bercerita.
                “Darimana kau tahu bahwa Dimas juga suka padamu?” Tanya Rika.
                “Kemarin malam, Dimas dating kerumahku. Dia menyatakan perasaannya padaku. Dia juga memberikan aku bunga mawar dan sebuah boneka.” Rani terdiam sejenak.
                “Lalu?” Tanya Rika.
                “Dimas memintaku untuk menjadi pacarnya..” jawab Rani.
                “Apa? Lalu kau jawab apa? Tanya Rika.
                “Ssstt jangan terlalu kencamg bicaranya. Aku belum menjawabnya. Aku bilang saja padanya kalau aku tidak bias menjawabnya saat itu dan aku akan menjawabnya besok malam. Aku sangat bingung Rika..”  Jawab Rani.
                “Kamu terima saja si Dimas. Kamu kan bias berpacaran tanpa sepengetahuan Dimas.” Jawab Rika dengan santai.
                “Tapi Rik..” Rani memotong pembicaraan Rika.
                “Ah sudahlah jangan terlalu difikirkan.” Jawab Rika.
                Bel masuk pun berbunyi, semua anak memasuki kelas masing-masing dan menempati tempat duduk mereka. Rani, Rika, dan anak-anak yang lainnya kembali belajar seperti biasa. Rani sudah terlihat seperti biasanya, tidak semurung tadi. Rika pun senang melihat Rani sudah seperti biasanya. Tak terasa, bel pulang pun berbunyi. Seperti biasanya, Rani pulang bersama Rika karena rumah mereka berdekatan.
                Sore harinya, Rani pergi ke tempat les yang tidak jauh dari rumahnya. Ternyata disana sudah ada Dimas dan Putri. Rani bersikap seperti biasanya seolah tidak ada apa-apa. Namun, Dimas terus mencari-cari perhatian Rani. Sepulang les, Rani pulang diantar oleh Dimas. Di tengah perjalanan, Dimas meminta jawaban dari Rani tentang pertanyannya kemarin.
                “Ran, gimana jawabannya? Kamu mau tidak menjadi pacarku?” Tanya Dimas.
                “Mmmm… aku belum tahu Dim, aku belum bias menjawabnya sekarang.” Jawab Rani.
                “Yah yasudahlah… besok ya kamu jawabnya sepulang les.” Jawab Dimas.
                “I… iya Dim.” Jawab Rani.
                Rani pun tiba dirumahnya dan Dimas segera pulang ke rumahnya. Malam harinya, Rina berfikir, apa yang harus ia lakukan. Dia bingung harus menjawab apa.
                “Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus ku katakana pada Dimas? Apakah aku harus menjadi pacarnya? Tapi bagaimana jika nanti Putri tahu? Pasti Putri akan sangat marah padaku dan pertemananku dengan Putri akan hancur.” Ucap Rani dalam hati.
                Setelah lama berfikir, Rani pun tidur karena besok pagi dia harus pergi ke sekolah. Keesokan harinya sepulang les, Rani kembali diantar oleh Dimas. Sesampainya dirumah Rani, Rani menawarkan Dimas untuk mampir kerumahnya. Dimas pun menyetujuinya. Rani menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk Dimas.
                “Dim, aku mau menjawab pertanyaanmu kemarin.” Ucap Rani.
                “Iya jawab saja Ran..” Jawab Dimas.
                “Maaf ya aku tidak bias menjadi pacarmu.” Ucap Rani.
                “Memangnya kenapa Ran?” Tanya Dimas.
                “Putri juga suka padamu, aku tiak mungkin menjadi pacarmu. Putri itu temanku, aku tidak mau menyakiti hatinya. Aku tidak mau pertemananku dengan Putri hancur.” Jawab Rani.
                “Tapi Ran..”  Dimas memotong pembicaraan Rani.
                “Sudahlah Dim, kita bias menjadi sahabat kok. Bukankah lebih enak jika kita bersahabat saja?” Rani memotong pembicaraan Dimas.
                “Yasudah Ran kalau kamu maunya begitu, aku pamit pulang ya Ran.” Jawab Dimas dengan kecewa.
                “Iya Dim hati-hati ya, terimakasih sudah mengantarku pulang.” Jawab Rani.
                Dimas sangat kecewa dengan keputusan Rani. Diam-diam Putri mengetahui semua itu. Putrid bertanya kepada Rani mengapa ia tidak mau menjadi pacarnya Dimas. Rani menjawab karena ia tahu kalau Putri suka pada Dimas. Ia tidak ingin menyakiti hati Putri.ia tidak ingin pertmanannya dengan Putri menjadi hancur. Mendengar jawaban Rani, Putri meneteskan air mata, ia tidak menyangka bahwa Rani akan seperti itu. Ia pun memeluk Rani dan pertemanan mereka semakin erat.