Ku Relakan Dia Demi
Sahabatku
Rani,
gadis cantik berrambut pirang dengan bulu mata yang lentik, wajahnya memikat,
senyumnya membuat orang nyaman didekatnya. Rani yang biasanya riang, senang
bersenda gurau, pagi itu tampak murung. Rika teman dekatnya bertanya-tanya
dalam hati, ada apa kiranya dengan Rani. Rika pun memberanikan diri untuk
bertanya pada Rani.
“Ran…
Ran… hari ini kau tidak seperti biasanya.” Rani pun tetap diam seribu bahasa.
Bel
masuk pun berbunyi, tanda pelajaranakan segera dimulai. Tak lama setelah bel
berbunyi, Bu Ida, seorang guru bahasa Indonesia memasuki kelas Rani. Bu
Ida mengajar seperti biasa, namun di
tengah pelajaran, Bu Ida melihat Rani tidak seperti biasanya. Ya, Rani terlihat
murung. Bi Ida pun menegur Rani.
“Rani,
kamu kenapa? Ibu perhaikan sejak tadi kamu terlihat murung.” Tanya Bu Ida.
“Ti..
tidak kenapa-kenapa kok bu.” Jawab Rani dengan terbata-bata.
Rani
pun kembali memperhatikan pelajaran. Rika sebagai teman Rani pun merasa bingung
akan kemurungan Rani. Bel istirahat pun berbunyi, beberapa anak pun pergi ke
kantin sekolah untuk membeli makanan. Rani dan Rika tetap dikelas karena mereka
membawa bekal dari rumah. Setelah selesai makan, Rani bercerita kepada Rika apa
yang sedang Ia alami.
“Rik,
aku sangat bingung.” Ucap Rani
“Mengapa
begitu?” Tanya Rika bingung.
“Kamu
ingat kan dengan Dimas? Teman les ku itu loh. Yang minggu lalu aku ceritakan
padamu saat dia dating kerumahku dan memberikan aku coklat.” Jawab Rani.
“Iya
aku ingat. Memangnya dia kenapa?” Tanya Rika.
“Tapi
kamu jangan cerita kepada siapapun ya. Janji?”Tanya Rani.
“Iya
aku janji Rina.” Jawab Rika.
“Tapi
aku bingung harus memulai ceritanya dari mana.” Ucap Rani.
“Sudahlah,
ayo ceritakan saja Ran.” Ucap Rika sedikit memaksa.
“Se..
sebenarnya.. mmm.. sebenarnya…” jawab Rani dengan gugup.
“Sebenarnya
apa? Yasudahlah kalau kamu tidak mau menceritakannya padaku.” Jawab Rika dengan
sedikit kesal.
“Sebenarnya
aku suka sama Dimas.” Ucap Rani.
“Hah?
Kamu serius? Yaampun Ran hanya karna Dimas saja kamu sampai semurung ini
hahaha.” Jawab Rika dengan sedikit tertawa.
“Bukan
itu masalahnya Rik.” Ucap Rani.
“Lalu
apa masalahnya?” Tanya Rika.
“Aku
suka pada Dimas, Dimas pun juga suka padaku. Tapi, Putri, salah satu temanku di
tempat les juga suka pada Dimas. Aku sangat tidak enak pada Putri.” Rani mulai
bercerita.
“Darimana
kau tahu bahwa Dimas juga suka padamu?” Tanya Rika.
“Kemarin
malam, Dimas dating kerumahku. Dia menyatakan perasaannya padaku. Dia juga
memberikan aku bunga mawar dan sebuah boneka.” Rani terdiam sejenak.
“Lalu?”
Tanya Rika.
“Dimas
memintaku untuk menjadi pacarnya..” jawab Rani.
“Apa?
Lalu kau jawab apa? Tanya Rika.
“Ssstt
jangan terlalu kencamg bicaranya. Aku belum menjawabnya. Aku bilang saja
padanya kalau aku tidak bias menjawabnya saat itu dan aku akan menjawabnya
besok malam. Aku sangat bingung Rika..”
Jawab Rani.
“Kamu
terima saja si Dimas. Kamu kan bias berpacaran tanpa sepengetahuan Dimas.”
Jawab Rika dengan santai.
“Tapi
Rik..” Rani memotong pembicaraan Rika.
“Ah sudahlah
jangan terlalu difikirkan.” Jawab Rika.
Bel
masuk pun berbunyi, semua anak memasuki kelas masing-masing dan menempati
tempat duduk mereka. Rani, Rika, dan anak-anak yang lainnya kembali belajar
seperti biasa. Rani sudah terlihat seperti biasanya, tidak semurung tadi. Rika
pun senang melihat Rani sudah seperti biasanya. Tak terasa, bel pulang pun
berbunyi. Seperti biasanya, Rani pulang bersama Rika karena rumah mereka
berdekatan.
Sore
harinya, Rani pergi ke tempat les yang tidak jauh dari rumahnya. Ternyata
disana sudah ada Dimas dan Putri. Rani bersikap seperti biasanya seolah tidak
ada apa-apa. Namun, Dimas terus mencari-cari perhatian Rani. Sepulang les, Rani
pulang diantar oleh Dimas. Di tengah perjalanan, Dimas meminta jawaban dari
Rani tentang pertanyannya kemarin.
“Ran,
gimana jawabannya? Kamu mau tidak menjadi pacarku?” Tanya Dimas.
“Mmmm…
aku belum tahu Dim, aku belum bias menjawabnya sekarang.” Jawab Rani.
“Yah
yasudahlah… besok ya kamu jawabnya sepulang les.” Jawab Dimas.
“I… iya
Dim.” Jawab Rani.
Rani
pun tiba dirumahnya dan Dimas segera pulang ke rumahnya. Malam harinya, Rina
berfikir, apa yang harus ia lakukan. Dia bingung harus menjawab apa.
“Apa
yang harus aku lakukan? Apa yang harus ku katakana pada Dimas? Apakah aku harus
menjadi pacarnya? Tapi bagaimana jika nanti Putri tahu? Pasti Putri akan sangat
marah padaku dan pertemananku dengan Putri akan hancur.” Ucap Rani dalam hati.
Setelah
lama berfikir, Rani pun tidur karena besok pagi dia harus pergi ke sekolah.
Keesokan harinya sepulang les, Rani kembali diantar oleh Dimas. Sesampainya
dirumah Rani, Rani menawarkan Dimas untuk mampir kerumahnya. Dimas pun
menyetujuinya. Rani menyuguhkan minuman dan makanan ringan untuk Dimas.
“Dim,
aku mau menjawab pertanyaanmu kemarin.” Ucap Rani.
“Iya
jawab saja Ran..” Jawab Dimas.
“Maaf
ya aku tidak bias menjadi pacarmu.” Ucap Rani.
“Memangnya
kenapa Ran?” Tanya Dimas.
“Putri
juga suka padamu, aku tiak mungkin menjadi pacarmu. Putri itu temanku, aku
tidak mau menyakiti hatinya. Aku tidak mau pertemananku dengan Putri hancur.”
Jawab Rani.
“Tapi
Ran..” Dimas memotong pembicaraan Rani.
“Sudahlah
Dim, kita bias menjadi sahabat kok. Bukankah lebih enak jika kita bersahabat
saja?” Rani memotong pembicaraan Dimas.
“Yasudah
Ran kalau kamu maunya begitu, aku pamit pulang ya Ran.” Jawab Dimas dengan
kecewa.
“Iya
Dim hati-hati ya, terimakasih sudah mengantarku pulang.” Jawab Rani.
Dimas
sangat kecewa dengan keputusan Rani. Diam-diam Putri mengetahui semua itu.
Putrid bertanya kepada Rani mengapa ia tidak mau menjadi pacarnya Dimas. Rani
menjawab karena ia tahu kalau Putri suka pada Dimas. Ia tidak ingin menyakiti
hati Putri.ia tidak ingin pertmanannya dengan Putri menjadi hancur. Mendengar
jawaban Rani, Putri meneteskan air mata, ia tidak menyangka bahwa Rani akan
seperti itu. Ia pun memeluk Rani dan pertemanan mereka semakin erat.
Slots and Casino | Woorika Casinos
BalasHapusThe best slots and casino games by the 2021 포커 페이스 Slots bitcasino and Casino category are here · Wild West Gold 유로 스타 사이트 · Divine 포커 페이스 뜻 Fortune · 카카오 스포츠 Thunderstruck · Thunderstruck · Wheel of Fortune · Slotomania